Archive: September 24, 2021

Sedekah Yang Sedikit Tapi Besar Ganjarannya

Suatu ketika ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Lalu, beliau menjawab, “Bersedekah selama kamu masih sehat, bakhil (suka harta), takut miskin, dan masih berkeinginan untuk kaya. Dan, janganlah kamu menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan maka kamu baru berkata, ‘Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian’, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya).” (HR Bukhari dan Muslim).

Salah satu pelajaran yang terkandung dalam hadith yang diriwayatkan dari Abu Hurairah di atas dinasihatkan kepada kita untuk mempercepatkan untuk memberi sedekah dan melakukan perbuatan baik yang lain. Dia dengan tegas, melakukan kebaikan tidak ditangguhkan, harus segera dilaksanakan. Ini adalah selaras dengan Firman Allah swt di Al-Baqarah (2) ayat 148, “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.”

Dalam hadisnya, Rasulullah SAW bersabda, “Perlahan-lahan dalam segala sesuatu itu baik, kecuali dalam perbuatan yang berkenaan dengan akhirat.” (HR Abu Dawud, Baihaqi, dan Hakim). Jika kita menunda perbuatan baik, maka bisa jadi amal baik yang akan kita lakukan tidak akan terjadi. Itu karena kita tidak tahu kapan kematian menjemput kita.

Keistimewaan Sedekah Diwaktu Lapang & Sempit

Al-Qur’an menyebutkan bahwa tanda ketakwaan itu mampu bersedekah pada waktu yang lapang dan sempit (QS 3: 134, 65: 7). Orang yang sedekah pada waktu yang lapang itu normal. Tapi, memberikan sedekah dalam waktu yang sulit, itu luar biasa.

Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW berpesan kepada para sahabatnya, “Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham.” Lalu, ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada seseorang yang memiliki dua dirham, lalu mengabil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula orang yang memiliki harta banyak sekali, lalu ia mengambil seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR Na-Nasai).

Allah berfiman dalam surah At-Thalaq ayat 7, “Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak akan memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

Melalui ayat ini, Allah berjanji bahwa Dia hanya menguji hambaNya sesuai dengan kemampuannya. Allah juga berjanji bahwa Dia akan memberikan kemudahan di balik kesulitan yang dialami seorang hamba. Namun, Allah tidak menginginkan hambaNya berpangku tangan menunggu pertolongan Allah datang. Allah menyuruh hambaNya yang sedang kesulitan untuk bersedekah dari sedikit harta yang ia miliki.

Mari ikut berdonasi klik disini

Mengapa Penghuni Neraka Kebanyakan dari kaum Hawa?

Satu perkara yang pasti bahwa neraka adalah tempat bagi kaum musyrikin dan pendosa yang melanggar peraturan Allah swt. Setiap Muslim yang mendengar perkataan neraka, pasti berharap agar Allah swt mengelakkan dari menjadi salah seorang penduduknya.

Rasulullah SAW menjelaskan mayoritas penghuni neraka adalah wanita.

اطَّلَعْتُ في الجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ في النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku melihat ke dalam surga, maka kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka, maka kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR Bukhari dan Muslim).

Imam Qurthubi mengomentari hadits di atas, ”Penyebab banyaknya kaum wanita yang masuk neraka adalah karena hawa nafsu yang mendominasi mereka. Kecondongan mereka pada kesenangan-kesenangan duniawi dan berpaling dari akhirat. Mereka mudah tertipu oleh kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah beramal saleh. Mereka juga menjadi penyebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat karena hawa nafsu dalam diri mereka. Kebanyakan mereka memalingkan diri dan selain mereka dari akhirat. Cepat tertipu jika diajak pada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak pada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha hlm 29-30 dan At-Tadzkirah hlm 369).

SIAPAKAH MANUSIA YANG PALING BAHAGIA?

Manusia yang paling bahagia adalah manusia yang berhenti nafasnya namun tak berhenti pahalanya. Memperbanyak amal sholih yang terus mengalir apapun bentuknya sebagai bekal abadi diakhirat kelak,

Dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Insya Allah rutinitas do’a bersama dan santunan pekanan kami laksanakan hari ini Kamis tanggal 9 September 2021 ba’da Magrib dan berbagi nasi Jum’at berkah untuk adik adik yatim dan dhuafa juga parkir miskin dihari Jum’at.
Kami persilahkan untuk titipan do’anya🖊️
Nama;
Bin/binti;
Hajat/do’a;

Semoga diijabah oleh Allah SWT.Aamiin 🤲🤲
SALAM SANTUN DAN PENUH DO’A DARI KAMI SERTA ADIK ADIK YATIM YAYASAN YASIINDO KARAWANG.

Konfirmasi bisa melalui akun media sosial kami atau melalui wa di 085313667879

Bersedekah Tidak perlu banyak yang penting Ikhlas

Sedekah dengan hati yang tulus bisa membuat sedekah lebih berkah, bernilai lebih dan dihargai dengan kebaikan lain yang lebih mengesankan. Banyak atau sedikit sedekah dilakukan, jika dilakukan karena Allah, sedekah akan membawa berbagai macam kebaikan.

Sedekah Sedikit Tapi Ikhlas Lebih Baik Dari Sedekah Banyak Tapi Riya’

Menanam ketulusan dalam hati tidak mudah. Beberapa orang merasa sangat ikhlas ketika memberikan sedekah atau membantu orang lain. Tapi di sisi lain, masih ada tujuan lain dari sedekah yang ia lakukan. Sebagian dari kita bahkan bisa melakukan sedekah karena mereka ingin dianggap wah, itu dianggap baik dan dianggap murah hati. Kemudian, jika itu seperti itu,apa kita benar-benar ikhlas?

Sedekah Sedikit tapi disertai dengan hati yang tulus dan tanpa pamrih, terutama unsur-unsur Riya ‘dalam hati, itu lebih baik daripada sedekah dengan jumlah besar tetapi terus menjadi tinggi dan diingat sepanjang waktu. Sedekah sedikit tapi tidak pernah berharap untuk mendapatkan imbalan atau pujian di dunia, justru lebih berkah dibandingkan dengan banyak sedekah, tetapi dipamerkan.

Ketika Bersedekah, Cukup Tuhan yang Tahu

Ketika bersedekah, cukup Tuhan yang tahu. Tanpa mengatakan kepada orang lain bahwa kita memberi sedekah, apa yang kita lakukan tentu dihargai untuk kebaikan dan berkah dari Allah. Dari Abu Hurairah, RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya …(dan disebutkan salah satu dari mereka)… dan laki-laki yang bersedekah kemudian menyembunyikan sedekahnya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya” (HR. Bukhari & Muslim).

Bersedekah kemudian menyembunyikan akan lebih baik di hadapan Allah, bagi seseorang yang disedekahi dan dirinya sendiri. Melakukan kebaikan ini dengan rasa yang benar-benar ikhlas cukup sulit, tapi selama niat kita kuat dan baik, tidak ada kesulitan. Hal ini berlaku tidak hanya untuk umat Islam untuk sedekah yang tulus, ini juga berlaku kepada siapa pun dengan keyakinan apapun.

Perlu bantuan kami, Chatt kami sekarang

Kami siap membantu Anda, jangan ragu hubungi kami

Customer Service

Alya

Online

Alya

Assalamu'alaikum, Ada yang bisa kami bantu? 00.00