Category: Artikel

Bersedekah Tidak perlu banyak yang penting Ikhlas

Sedekah dengan hati yang tulus bisa membuat sedekah lebih berkah, bernilai lebih dan dihargai dengan kebaikan lain yang lebih mengesankan. Banyak atau sedikit sedekah dilakukan, jika dilakukan karena Allah, sedekah akan membawa berbagai macam kebaikan.

Sedekah Sedikit Tapi Ikhlas Lebih Baik Dari Sedekah Banyak Tapi Riya’

Menanam ketulusan dalam hati tidak mudah. Beberapa orang merasa sangat ikhlas ketika memberikan sedekah atau membantu orang lain. Tapi di sisi lain, masih ada tujuan lain dari sedekah yang ia lakukan. Sebagian dari kita bahkan bisa melakukan sedekah karena mereka ingin dianggap wah, itu dianggap baik dan dianggap murah hati. Kemudian, jika itu seperti itu,apa kita benar-benar ikhlas?

Sedekah Sedikit tapi disertai dengan hati yang tulus dan tanpa pamrih, terutama unsur-unsur Riya ‘dalam hati, itu lebih baik daripada sedekah dengan jumlah besar tetapi terus menjadi tinggi dan diingat sepanjang waktu. Sedekah sedikit tapi tidak pernah berharap untuk mendapatkan imbalan atau pujian di dunia, justru lebih berkah dibandingkan dengan banyak sedekah, tetapi dipamerkan.

Ketika Bersedekah, Cukup Tuhan yang Tahu

Ketika bersedekah, cukup Tuhan yang tahu. Tanpa mengatakan kepada orang lain bahwa kita memberi sedekah, apa yang kita lakukan tentu dihargai untuk kebaikan dan berkah dari Allah. Dari Abu Hurairah, RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya …(dan disebutkan salah satu dari mereka)… dan laki-laki yang bersedekah kemudian menyembunyikan sedekahnya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya” (HR. Bukhari & Muslim).

Bersedekah kemudian menyembunyikan akan lebih baik di hadapan Allah, bagi seseorang yang disedekahi dan dirinya sendiri. Melakukan kebaikan ini dengan rasa yang benar-benar ikhlas cukup sulit, tapi selama niat kita kuat dan baik, tidak ada kesulitan. Hal ini berlaku tidak hanya untuk umat Islam untuk sedekah yang tulus, ini juga berlaku kepada siapa pun dengan keyakinan apapun.

Latihan Bersyukur dengan yang sedikit

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah pemberi dari berbagai jenis kesenangan. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada rasul kita Muhammad SAW, keluarga dan teman-teman nya.

Setiap kali kami menerima banyak berkat dari Allah, tetapi kadang-kadang ini terus merasa kurang, merasakan sedikit kesenangan yang diberikan Allah. Tuhan memberi kesehatan jika dibayar sangat mahal. Tuhan memberi umur panjang, bahwa jika Anda membeli dengan semua properti kami, Anda tidak akan dapat membayarnya. Namun, diri ini hanya menganggap tentang kekayaan sebagai nikmat, kekayaan dianggap sebagai rizki. Padahal kesehatan, umur panjang, semua itu adalah nikmat, yang semuanya adalah nikmat Tuhan yang luar biasa.

Syukuri yang sedikit

Dari Nu’man bin Basyir, kata Nabi Sallalaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667). Hadits ini benar sekali. Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri rizki yang banyak, rizki yang sedikit dan tetap terus Allah beri sulit untuk disyukuri? Bagaimana mau disyukuri? Sadar akan nikmat tersebut saja mungkin tidak terbetik dalam hati.

Kita selalu mengabaikan 3 nikmat

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan ada 3 macam kesenangan.

Pertama-tama, itu adalah berkat yang muncul di mata hamba.

Kedua, itu adalah kesenangan yang diharapkan oleh kehadirannya.

Ketiga, adalah salah satu nikmat yang tidak terasa.

Ibnul Qoyyim mengatakan ada seorang Arab untuk memenuhi Amiroul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata: “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.” (Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, terbitan, Darul ‘Aqidah, hal. 165-166).

Ini adalah berkat yang kita sering lupa. Kita hanya bisa mengetahui berbagai berkat di depan kami, seperti rumah mewah, sepeda motor yang baik, gaji Wahl, dll Demikian pula, kita masih mengharapkan harapan favorit lainnya untuk tetap Istiqomah dalam agama ini, bahagia di masa depan, hidup baik diadopsi, dll Namun, ada juga berkat yang kita tidak bisa merasakan, bahkan jika itu adalah juga lezat.

Kesehatan juga nikmat

bayangan kami dapat, nikmat hanya uang, makanan dan harta mewah. Bahkan jika kondisi sehat yang Allah dan memberikan waktu luang lezat. Bahkan untuk kesehatan jika kita membayar biaya yang sangat mahal. Namun, nikmat kita bahwa kita sering mengabaikan.

Kedua nikmat sering diabaikan oleh manusia – termasuk hamba ini Fakir. Nabi Sallallahu “Alayhi wa sallam bersabda,

Bayangan kita barangkali, nikmat hanyalah uang, makanan dan harta mewah. Padahal kondisi sehat yang Allah beri dan waktu luang pun nikmat. Bahkan untuk sehat jika kita bayar butuh biaya yang teramat mahal. Namun demikianlah nikmat yang satu ini sering kita lalaikan.

Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.” (Dinukil dari Fathul Bari, 11/230)

Rizki bukan hanya identik dengan uang

Jika kita dan semua manusia bersatu untuk membuat daftar nikmat Allah, kita pasti akan menemukan kesulitan. Allah Ta’ala berkata:

“Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).

Bila semua yang ada pada kita, baik yang kita sadari atau tidak, adalah rizki Allah tentu semuanya harus kita syukuri. Namun bagaimana mungkin kita dapat mensyukurinya bila ternyata mengakuinya sebagai nikmat atau rejeki saja tidak?

Saudaraku! kita pasti telah membaca dan memahami bahwa kunci utama langgengnya kenikmatan pada diri anda ialah sikap syukur nikmat. Dalam ayat suci Al Qur’an yang barangkali kita pernah mendengarnya disebutkan,

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Alih-alih mensyukuri nikmat, menyadarinya saja tidak. Bahkan dalam banyak kesempatan bukan hanya tidak menyadarinya, akan tetapi malah mengingkari dan mencelanya. Betapa sering kita mencela angin, panas matahari, hujan dan berbagai nikmat Allah lainnya?

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Al Fudhail bin ‘Iyadh mengisahkan: “Pada suatu hari Nabi Dawud ‘alaihissalam berdoa kepada Allah: Ya Allah, bagaimana mungkin aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, bila ternyata sikap syukur itu juga merupakan kenikmatan dari-Mu? Allah menjawab doa Nabi Dawud ‘alaihissalam dengan berfirman: “Sekarang engkau benar-benar telah mensyukuri nikmat-Mu, yaitu ketika engkau telah menyadari bahwa segala nikmat adalah milikku.” (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)

Imam As Syafii berkata, “Segala puji hanya milik Allah yang satu saja dari nikmat-Nya tidak dapat disyukuri kecuali dengan menggunakan nikmat baru dari-Nya. Dengan demikian nikmat baru tersebutpun harus disyukuri kembali, dan demikianlah seterusnya.” (Ar Risalah oleh Imam As Syafii 2)

Wajar bila Allah Ta’ala menjuluki manusia dengan sebutan “sangat lalim dan banyak mengingkari nikmat, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas dan juga pada ayat berikut,

“Dan Dialah Allah yang telah menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sering mengingkari nikmat.” (QS. Al Hajj: 66)

Artinya di sini, rizki Allah amatlah banyak dan tidak selamanya identik dengan uang. Hujan itu pun rizki, anak pun rizki dan kesehatan pun rizki dari Allah.

Surga dan Neraka pun Rizki yang Kita Minta

Sebagian kita menyangka bahwa rizki hanyalah berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta dalam do’a mungkin saja kita berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rizki yang paling besar yang Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Surga adalah nikmat dan rizki yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rizki yang Allah sebutkan bagi hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal ini sebagaimana maksud dari firman Allah Ta’ala,

“Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia.” (QS. Saba’: 4)

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.” (QS. Ath Tholaq: 11)

Teruslah bersyukur atas nikmat dan rizki yang Allah beri, apa pun itu meskipun sedikit. Yang namanya bersyukur adalah dengan meninggalkan maksiat dan selalu taat pada Allah. Abu Hazim mengatakan, “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” Mukhollad bin Al Husain mengatakan, “Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.” (‘Uddatush Shobirin, hal. 49, Mawqi’ Al Waroq)

Kekuatan Do’a yang Sering Dilupakan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita benar-benar menemukan banyak doa yang menjadi kenyataan. Sayangnya, banyak dari kita memilih untuk mendominasi sholat. Setelah beberapa upaya belum berhasil atau ketika terpojok, kalimat-kalimat baru adalah penjara.

Kita sering menjalankan doa hanya terbatas pada ritual. Membaca doa seperti membaca “mantra”, kita tidak bisa tahu artinya. Doa yang disata hanya diucapkan di mulut, tanpa keyakinan pada hati dan alasan untuk percaya. Tidak mengherankan bahwa doa itu tidak sampai ke tujuan.

Doa, bukan mantra

“pada kenyataannya, tidak dapat dipahami oleh semua orang. Tapi itu nyata, bahwa ada perubahan kimia yang dialami seseorang sendirian dengan harapan dan doa.” Adele M. Gill, di buku 7 jalan menuju harapan.

Adele M. Gill adalah penulis dan motivator yang diketahui yang mengelola web www.adelemgill.com. Menurutnya, doa sebagai pertemuan antara harapan dan iman. Dua elemen ini kemudian mendasari banyak perubahan. Dia memberi kami saran yang disengaja untuk selalu mempertimbangkan kehidupan sebagai cara bermain dengan solusi dan harapan.

Ketika kita bersedia menggerakkan tangan Anda, terus menyanyikan beberapa doa, dengan sendirinya, fenomena pemikiran iman-pikiran akan terbentuk. Oleh karena itu, doa tidak hanya dikatakan sebagai “mantra”, tetapi kalimat pada saat yang sama meyakinkan hati dan pikiran untuk dapat, maka kita bisa. Juga, sebaliknya, jika kita pikir itu tidak bisa, maka kita tidak akan melakukannya.

Berpikir positif adalah salah satu kunci doa. Di sisi lain, berpikir positif juga merupakan salah satu kekuatan untuk menghindari banyak penyakit. Sebagian besar penyakit fisik dihasilkan oleh gangguan mental (psikis). Inilah yang disebut psikosomatis. Pikiran yang tidak sehat akan menularkan penyakit mereka di tubuh kita. Kita sering lupa, jika penyakit yang kita derita dari sumbernya emosional. Kami sibuk menyembuhkan penyakit fisik dengan narkoba, tanpa menyembuhkan cedera kami terluka. Jika kita benar-benar ingin bebas dari semua penyakit, mulailah berpikir positif.

Doa juga bisa menipu


Doa terkait erat dengan makna positif. Tetapi ada juga segelintir orang yang berpikir bahwa doa adalah kegiatan yang dapat melemah dan menipu. Ini tidak dapat dipisahkan dari Dr. Dr. yang pernah menulis Ali Shariati. Seorang sosiolog di Iran menganggap doa sebagai kata sandi agama yang telah mengalami perubahan makna dan fungsi. Doa yang harus diartikan sebagai sarana untuk mengajukan permintaan kepada Tuhan, kadang-kadang menjadi kegiatan yang melakukan khalik.

Setidaknya ada 3 hal dalam doa, yang benar-benar akan membawa semua pender di jurang yang penting.

Pertama, kita awalnya siap untuk tunduk pada semua tantangan hidup, jika sindrom berubah dalam arti doa ini, maka mereka yang terkena dampak akan menjadi individu yang lemah dan akan senang bersembunyi di balik doa. Doa menjadi dalih untuk menyerah mengatakan: “Saya meninggalkan segalanya.” Ini adalah salah satu penyebab doa yang tidak diterima karena tidak ada upaya untuk mencapai harapan ini.

Kedua, kami secara membabi buta makna doa, akhirnya membuat ritual berdoa sebagai kegiatan untuk mendo ke “Allah” orang lain, di luar Tuhan, yang benar-benar ingin kita pergi. Ini sering terjadi di lingkungan kita yang masih ada di sana, ada budaya animisme-dinamisme (kepercayaan pada gaya atau roh yang menghuni benda-benda). Misalnya, seseorang yang ingin menjabat dan kemudian meminta doa ke makam tertentu atau yang dianggap “sakral”.

Ketiga, doa telah kehilangan maknanya. Karena sering disiapkan, manusia memikirkannya sebagai “mantra”. Doa yang keluar dari mulut hanyalah ritual yang tidak menyentuh makna. Kami bahkan membaca doa tanpa mengetahui arti sebenarnya. Lebih buruk lagi, kami memadamkan doa dengan “mantra”, setelah diberikan kepada permintaan BIM-SALO-BIM segera diberikan.

Kita lupa bahwa doa untuk menjadi efektif, Anda harus melibatkan otak dan hati. Dalam hal ini, otak bertindak sebagai pelaksana (untuk berhati-hati), sementara hati, seperti pendukung (memperkuat alasan akting).

Adab


Untuk doa kita menjadi lebih berkesan, sudah tentu, anda harus melihat yang sopan pada masa yang kita berdoa. Terdapat beberapa yang perlu diperhatikan pada masa doa.

Pertama, dia merendahkan suaranya. Dalam erti kata itu dilakukan dengan kecerdasan yang lancar. Terdapat kisah menarik tentang hadith yang diriwayatkan oleh Abu Musa ra. Tempo, sahabat sedang dalam perjalanan dengan Rasulullah saw. Di tengah-tengah perjalanan, salah seorang sahabat mengetatkan suaranya ketika membaca tasbih. Mendengarkan jeritan, Nabi bertindak balas untuk bercakap, “Oh, lelaki, meninggalkan suara kamu, kerana kamu tidak benar-benar menerapkan orang pekak dan yang tidak kelihatan, kamu juga memohon Tuhan yang Maha Kuasa, Yang Maha Kuasa dengan semua”.

Kedua, mengekalkan sikap khas dan tadarru ‘semasa doa. Sikap ini menjadi bentuk tumpuan kita terhadap doa dan mengekalkan kedua-dua sikap ini menjadi kunci kepada doa. Sering kali, kita menghadapi tergesa-gesa dalam doa dan andaian bahawa doa perlahan-lahan, begitu kecewa dan berhenti berdoa.

Ketiga, dia percaya bahawa doa kita akan diberikan oleh Alloh. Wahyu ini, kes yang sama perbincangan “Hukum Tarikan”. Kita mesti faham, Alloh selalu menyertai keyakinan seorang hamba kepada Tuhannya. Jadi, apa yang boleh kita katakan bahawa kita percaya bahawa mereka mewujudkan kuasa mereka apabila dalam doa kita masih bimbang tentang kata-kata? Berlatih menggalakkan keyakinan terhadap Allah swt tanpa keraguan.

Itulah ringkasan beberapa kekuatan dan kelemahan doa. Mudah-mudahan, kali ini, kita terus menggunakan kekuatan doa untuk membangunkan tenaga positif dan menjauhkan diri dari kelemahan doa yang boleh menipu. Wallaahu A’lam.

Menyambut 1 Muharram 1443 Hijriah, 10 Amalan yang Dianjurkan Saat Tahun Baru Islam

Muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia, akan merayakan Tahun Baru Islam 2021 1 Muharram 1443 Hijriah pada 10 Agustus 2021. Di Indonesia, Tahun Baru Islam 1 Muharram telah ditetapkan sebagai salah satu hari libur nasional.

Di Tahun Baru Islam 10 Agustus 2021, pemerintah menggeser hari libur nasional hingga Rabu (11/8/2021). Pertemuan itu dipimpin oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Budaya (Menteri Koordinator PMK) Muhadjir Effendy dan dihadiri oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah, dan Pan Menteri RB Tjahjo Kumolo.

“Pemerintah memutuskan untuk mengubah dua hari libur nasional dan menghapus satu hari libur cuti bersama. Pengubahan hari libur diterapkan pada hari raya keagamaan yang tidak ada ritual ibadahnya,” kata Muhadjir dalam Rapat Koordinasi di Kantor Kemenko PMK yang dilansir Suara.com, Selasa (3/8/2021).


Hasil keputusan juga dinyatakan dalam Keputusan Menteri Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja, Menteri Reformasi Administrasi dan Reformasi Birokrasi Nomor 712 Tahun 2021, Nomor 1 Tahun 2021, Number 3 Tahun 2021 tentang Amandemen Untuk mengetahui Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja, Menteri Reformasi Administrasi dan Reformasi Birokrasi Nomor 642 Tahun 2020, Nomor 4 Tahun 2020, Nomor 4 Tahun 2020 tentang Liburan Nasional dan Bersama Liburan pada tahun 2021.

Keputusan itu diambil oleh pemerintah untuk menghindari hari libur panjang. Seperti diketahui, saat liburan panjang sering mengakibatkan peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia.

Sementara itu, Sheikh Abdul Hamid dalam bukunya mengatakan, ada 10 praktik yang bisa dilakukan selama bulan Muharram, sebagai berikut:

1.Ziarah
2.Puasa asyura.
3.Kunjungi orang sakit
4.Silaturahmi.
5.Membuat celak mata
6.Mandi
7.Sedekah
8.Memotong kuku
9.Tingkatkan mata pencaharian keluarga
10.Baca huruf al-Ikhlas sebesar 1.000 kali


Di antara seluruh praktik Tahun Baru Islam, praktik yang paling disarankan adalah puasa seperti yang dikatakan Abu Hurairah Ra.

Puasa puasa adalah puasa tasua dan puasa Asyura yang dapat diadakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Dua jenis puasa adalah hukum Sunnah, dan disarankan untuk dilakukan oleh seorang Muslim. Meskipun jika tidak melakukannya, itu tidak akan mendapatkan dosa.

Dalam hadits sejarah Muslim, ada hadiah yang diberikan kepada orang-orang yang berlari puasa Tasua dan Asyura, yaitu menghapuskan dosa-dosa mereka selama setahun sebelumnya.

Itu adalah penjelasan rekor yang direkomendasikan selama Tahun Baru Islam. Semoga Allah SWT selalu mendelegasikan berkat dan belas kasihannya kepada kita semua. Selamat Tahun Baru Islam 2021/1 Muharram 1443 Hjirah.

Ayat Alquran tentang Menyantuni Anak Yatim dan Keutamaannya

Islam sangat memuliakan anak yatim. Bahkan ada 22 ayat tentang anak yatim di Al-Qur’an.
Anak yatim adalah seseorang yang kehilangan ayahnya sebelum mencapai usia dewasa. Menanggung anak yatim berarti mengurus semua kebutuhan hidup, perhatian, mendidik, dan juga mendukungnya.

Allah berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakan lah “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik,” (QS. Al-Baqarah [2]: 220).

Alquran surat Adh-Dhuha ayat 6, Allah SWT menyebutkan Nabi Muhammad SAW adalah seorang yatim.

Dalam sebuah hadits Ibnu Majah:

“Sebaik-baik rumah di kalangan kaum Muslimin adalah rumah yang terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan sejelek-jelek rumah di kalangan kaum Muslimin adalah rumah yang terdapat anak yatim dan dia diperlakukan dengan buruk.” (HR. Ibnu Majah).

Namun disebut yatim jika anak tersebut belum baligh. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak lagi disebut yatim anak yang sudah bermimpi (baligh).” (HR. Abu Daud dari Ali bin Abi Thalib).

Beberapa hadits Nabi SAW mengungkapkan keutamaan menyantuni anak yatim. Salah satunya ketika Rasulullah SAW menjamin bahwa orang yang menyantuni anak yatim akan bersamanya nanti di surga.

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian Beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkan keduanya.” (HR Bukhari).
Namun bila tidak mengutamakan anak yatim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)
Dalam Alquran surat Al-Fajr, ditemukan isyarat bahwa salah satu dampak dari dibatasinya harta, karena tidak memuliakan anak yatim.

“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim” (QS. al-Fajr : 16-17).

Dalam surat Al-Maun Allah SWT berfirman, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim.'” (QS.107:1-2)

Itulah bukti Islam memuliakan anak yatim. Belum terlambat untuk menyantuni anak yatim sekarang juga. Yasiindo menerima Zakat Infaq Shodaqoh serta Wakaf, yang tentunya sudah mendapat izin serta sudah terdaftar di BAZNAS.

Apabila anda ingin ikut berdonasi melalui yayasan kami silahkan klik disini.

Perlu bantuan kami, Chatt kami sekarang

Kami siap membantu Anda, jangan ragu hubungi kami

Customer Service

Alya

Online

Alya

Assalamu'alaikum, Ada yang bisa kami bantu? 00.00